Jumat, 05 September 2025

Ketika Hati Bicara ( Bag I )

 

Rizki Anindita, nama yang sederhana dan mudah untuk diingat. Tidak seperti nama-nama anak kebanyakan yang diambil dari bahasa arab atau bahasa Inggris yang pengucapannya sulit di lidah, bahkan arti nama itu sendiri sering terlupakan. Nama Anindita bisa diartikan sebagai anak perempuan yang unggul/sempurna sedangkan Rizki itu lebih. Orang tuanya menginginkan anak perempuannya mempunyai sesuatu kelebihan yang bisa dibanggakan.

Nindi berumur 17 tahun mempunyai tubuh tinggi semampai, kulitnya bersih sawo matang, alis yang tebal, bibir yang mungil, ada tahi lalat dekat hidungnya. Senyumnya selalu menghiasi wajahnya yang agak cabi, terkesan kalo pemilik wajah itu mempunyai sifat yang ramah.

Berkumpul untuk mengobrolkan merupakan sesuatu hal yang biasa dilakukan, setiap sarapan pagi, makan malam atau di sela-sela kesibukan masing-masing setiap anggota keluarga.

Seperti malam ini, rumah tampak ramai dengan senda gurau penghuni rumah karena semua berkumpul, habis makan malam Pambudi, Sismiyati, Bimo dan Nindi.

Berada di ruang keluarga dengan menggunakan nyala lampu LED yang terang menyinari seluruh ruangan . Sofa melingkar setengah lingkaran, televisi yang berukuran besar menghiasi tembok. Kelihatan serasi sekali di padu cat berwarna biru muda. Ruangan sebelah kanan terdapat kamar tidur Nindi, sebelahnya lagi ada dua kamar, satunya kepunyaan Bimo dan satunya lagi kamar tamu sedang Kamar orang tuanya berada ujung paling kiri. Di ruang keluarga terdapat almari buffet dengan berbagai pernak pernik miniatur hiasan tradisional jawa, ada sepeda onthel ( Sepeda kayuh ), mobil kodok, sepasang patung loro blonyo yang mempunyai arti sebagai penyatuan pasangan antara laki – laki dan perempuan dan masih banyak lagi miniatur-miniatur lainnya yang menghiasi ruang tamu yang tertata rapi dan menarik. Di sebelah paling kanan, tampak ruangan yang penuh dengan buku-buku tertata apik dan sepertinya keluarga ini sangat hobi dengan membaca. Dari buku-buku ensiklopedi sampai bacaan harianpun sepertinya sudah di setting bagaimana kebiasaan orang rumah ini.

Dengan bersandar, Bimo asyik membayangkan teman-temannya. Lama laki-laki itu menerawang jauh, dengan kesibukan kuliah masih bisa berkecimpung di dunia usaha walaupun sebagai side job, sangat menarik sekali. Manajemen waktu yang harus diacungi jempol. Kepalanya tanpa sadar geleng-geleng.

Dengan berbekal tekad untuk maju terus, tidak tergantung dengan orang tuanya yang jauh dari tempatnya kuliah ternyata banyak muncul pemikiran yang kreatif dan inovatif dengan menciptakan sesuatu yang berguna untuk kelangsungan hidupnya .

kebutuhan mahasiswa tahulah Ibu.. membuat tugas-tugas yang harus dikumpulkan, kegiatan-kegiatan yang tentunya membutuhkan biaya apalagi kalau sudah waktunya membayar uang semesteran kita telat sudah pasti ditagih sama pihak kampus supaya cepat-cepat melunasi kalau tidak bisa kena Droup Out (DO)... beruntung bagi yang mengandalkan pemberian orang tua sudah pasti tiap bulan datang hibah uang tapi alangkah mandirinya kalau mahasiswa itu membiayai kuliahnya sendiri…..hemm…jempol dua…hehehe” ucap Bimo panjang sambil tersenyum dan seakan-akan terhanyut akan jalan pikirannya yang mulai merasuk ke dalam pori-pori bibirnya sehingga kata-katanya dengan lancer berucap kepada adiknya.

Rasa optimis untuk menciptakan suatu usaha sudah merayapi jalan pikiran dan hatinya. Keinginan kuat untuk tidak tergantung kepada orang tuanya.

Banyak temen Bimo yang jualan pecel lele di dekat kampus tercinta, ada juga yang jadi penulis, ada yang membuka counter hp dan masih banyak lagi. Yang menarik bagi Bimo ada salah satu mahasiswanya yang bener-bener kekurangan, segi materi namun karena kehendak Yang Maha Kuasa apapun bisa terjadi di dunia ini. Apalagi prestasi yang dipunyai amat-amat membanggakan dengan kelancaran otaknya temennya itu ke Luar Negeri tanpa uang sepeserpun.

giliranku kapan ya…? Ucap Bimo menerawang jauh ke langit-langit sudut di ruang keluarga.

itu semua tinggal kemauan dan niat Mas Bimo saja…mau apa tidak untuk malaksanakan ? Kalau mau ya gimana caranya memperoleh sesuatu agar kita berhasil saja Mas… action, action dan action… itu harus dilakukan seperti kata Ipho Santoso… pencetus..pemikir otak kanan..benar tidak Mas.. ” sela Nindi sambil memandang kakaknya layaknya guru konseling yang memberikan arahan dan motivasi pada anak didiknya.

Ternyata hobynya yang suka membaca buku-buku Ipho Santoso juga telah mulai merayapi jalan pikirannya.

Kedua orang tua yang duduk bersebelahan kompak menoleh mengamini anak perempuannya yang ternyata mempunyai jalan pikiran yang maju. Tidak mengandalkan gaji seorang pegawai saja.

tanpa action…sama juga nol Mas…” timpal sang Ayah sambil melingkarkan ibu jari bertemu jari telunjuk yang menunjukkan angka nol.

Sekarang giliran Bimo yang mati kutu, tanpa disadari aksi garuk kepalanya menandakan otak Bimo sedang mencari sesuatu yang bisa untuk dijadikan action.

Kata-kata adiknya benar juga, sifatnya sangat peka tidak heran jika gadis itu terpilih sebagai ketua OSIS karena otaknya memang brillyan, selalu mempunyai ide-ide kreatif yang orang lain masih berada di zona nyaman, dia selangkah lebih maju. Dalam hati Bimo dia juga mengakui kalau adiknya cerdas segalanya.

heeem… lagi mikir ya mas…buat bimbel saja mas…mas kan dah punya basic di Universitas Negeri Yogyakarta …besuk aku bantu tapi aku bantunya bagian A-D-M saja…. Kan prospeknya bagus, kalau jalan terus sekalian mendirikan Lembaga Pendidikan …jadi menciptakan lapangan pekerjaan di samping pekerjaan pokoknya…” lanjut Nindi berapi-api sambil mempermainkan penanya di kepala mengikuti gerakan garuk-garuk kepalanya Bimo.

hemm…boleh juga …tapi bener lo ya kamu harus bantu kakak….” ucap Bimo memikirkan kembali apa yang dikatakan oleh adiknya, cukup brillyan itu.

kenapa tidak kepikiran olehku ya…masuk akal juga kalau aku bikin bimbel…“ batin Bimo.

Muncul ide-ide di otaknya seandainya dia benar mendirikan bimbel, apa saja yang harus direncanakan, Laki-laki itu terdiam dan berfikir.

Di ruang keluarga tiba-tiba hening, semua terdiam, kesempatan buat Nindi untuk mengalihkan topik pembicaraan di sekolah. Ingin berbagi cerita dengan apa yang terjadi di sekolahan tadi…pikirannya melayang jauh bersama teman-temannya.

Perasaannya gerah menyelimuti hati Nindi yang melihat sikap salah satu temannya yang mencoba untuk meraih perhatian guru Bahasa Inggrisnya.

Ibu, Ayah kenal dengan Pak Fahri.. yang mengajar Nindi Bahasa Inggris …?” pancing Nindi memperhatikan wajah ayah dan ibunya bergantian.

Spontan kedua orang itu memandang wajah anaknya dengan memperhatikan mimik wajah anaknya . Ada sesuatu yang sepertinya mengganjal dalam benak anaknya.

Memang ada apa dengan guru Bahasa Inggris Kamu? Sepertinya Ibu belum pernah ketemu beliau….siapa Pak Fahri…?” Tanya Sismiyati dengan nada menekankan nama guru yang disebut Nindi penuh selidik .

Akhir-akhir ini anak gadisnya jika menceritakan kegiatan di sekolahnya pasti ujung-ujungnya nama guru muda itu yang akhirnya topic pembicaraan yang katanya memang masih muda, sopan, tidak banyak tingkah dan selalu menarik perhatian anak didiknya termasuk anak perempuanku kah” batin Sismiyati menarik kesimpulan dari apa yang selama ini yang jadi percakapan Nindi.

Ibu, menurut Ibu mengutarakan rasa suka kita pada lawan jenis dan di upload ke jejaring menurut ibu gimana…? Tanya Nindi agak ragu.

maksud kamu…? Balik Tanya Sismiyati

iya Bu…ada temen Nindi yang mengutarakan cintanya dengan Pak Fahri melalui facebook, tanggapan dari temen-temen ada yang suka tapi lebih banyak yang tidak suka dan menghujat dengan kata-kata yang tidak pantas, kasihan Pak Fahri jadi bulan-bulanan di sekolahan apalagi posisinya Pak Fahri jelas-jelas tidak enak. Apalagi dia selaku guru yang tingkah lakunya cenderung banyak diperhatikan warga sekolah… tega-teganya temanku itu…”ucap Nindi setengah iba ada rasa iri di hati nya walau itu tidak kentara betul namun cinta itu jelas terlihat ketika nama Fahri selalu diucapkan Nindi.

kasihan Pak Fahrinya…kamu kenal teman kamu itu siapa…?” sela Bimo juga ikut terhanyut dengan cerita adiknya.

nick name dia hanya NOI itu saja…” ucap Nindi lirih sepertinya takut jika nama itu benar-benar terjadi.

Ya…memang zaman sudah banyak berubah…kamu sepertinya juga ada perasaan dengan Pak Fahri ya… aku harapkan jangan dulu. Gapai cita-citamu selagi kamu bisa meraihnya, cinta akan datang dengan sendirinya, manusia hidup sudah berpasang-pasangan jadi tidak usah takut untuk tidak mendapatkan jodoh ...” Ucap Sismiyati memperhatikan wajah anak gadisnya yang memerah karena ketahuan ibunya dan sepertinya ibunya membaca perasaannya.

beda zaman kita dulu ya bu…kalau dulu anak lelaki yang lebih agresif, lebih berani mengutarakan perasaan tapi sekarang tidak laki-laki atau perempuan bisa mengutarakan perasaannya sesukanya. Kalau untuk urusan cowok kamu harus hati-hati ya Nin, sebagai anak perempuan kamu harus punya prinsip. Yang harus digaris bawahi pertama karena kamu anak gadis tidak sepantasnya kalau kamu terlalu agresif terhadap seorang cowok, ini pantangan bagi keluarga kita khususnya kamu adalah seorang gadis , kalau laki-laki tahu sifat kamu seperti temen kamu itu pasti laki-laki akan takut lari terbirit-birit …na’udzubillah mindzalik… jangan sampai ya anak Bapak seperti itu…” Ucap ayah Nindi memberikan nasihat panjang pada anaknya yang wajahnya memerah.

Dalam hati Nindi, ia mengamini apa yang dikatakan ayahnya. Orang tuanya sangat peka sekali dengan urusan masalah hati yang ada hubungannya dengan perilakunya yang boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan.

Pambudi sangat protektif dengan urusan yang namanya cowok, apalagi Nindi adalah anak gadis satu-satunya yang sangat ia sayangi melebihi apapun di dunia ini.

menjaga diri di depan laki-laki itu penting , harga diri dan kehormatan seorang perempuan ada pada sikap dan tingkah laku kita, sebagai sebagai orang beragama kita harus berpegang teguh dengan norma-norma agama, sebagai orang timur kita harus membawa ketimuran kita…itu namanya kita melestarikan budaya yang baik…perilaku yang baik, jangan kita meniru perilaku orang barat di terapkan di sini itu tidak akan masuk dalam budaya kita, masyarakat kita masyarakat timur … junjung ketimuran kita jangan sampai kena arus globalisasi yang negative…” Sismiati menambahkan kata-kata suaminya.

Apalagi kalau cowok itu suka sama kita, kita bisa menghargai mereka untuk mencintai kita tapi kalau kita tidak cocok tidak perlu membalasnya. Yang kedua memilih cowok harus bisa memberi semangat untuk maju, menjadi inspirasi kita belajar , supaya hidup terarah dan menjadi kearah yang lebih baik lagi. Ketiga memilih cowok harus pintar bergaul dan membawa diri terutama pada keluarganya kita terutama lagi bisa mengambil hati Ibu dan ayah…kalau sudah bisa mengambil hati kedua orang tuamu ini berarti cowok kamu itu pintar beradaptasi kedepannya jika mempunyai permasalahan yang pelik mudah untuk mengatasinya…” lanjut Ayah Nindi menambahkan apa yang di ucapkan istrinya.

ayah…, ibu… jangan khawatir, untuk saat ini Nindi tidak berniat untuk mencari kekasih, Nindi juga masih focus dengan pelajaran Nindi, apalagi sekarang sudah kelas 12 jadi mikir pelajaran dulu…tapi kalau buat selingan tidak apa-apa ya…hehehe…” ucap Nindi sembari tersenyum lebar. Bayangan guru Bahasa Inggrisnya menari-nari di angannya, wajah imut guru muda itu selalu bisa menggoda.

dadi bocah ojo grusah grusuh, pemikiran lan tindak tanduke kudu maton, ngati-ati…ojo kegudo kadunyan wae…mengko uripmu ndak sengsoro (jadi anak perempuan jangan tergesa-gesa, cara berfikirnya juga tingkah laku kita harus, hati-hati jangan terjebak dunia saja nanti hidupmu bisa sengsara)..“ terngiang nasihat nenek Nindi ketika umurnya baru menginjak lima belas tahun.

Setiap kali tidur di rumah neneknya, Nindi serasa berada di negeri 1001 malam, dongeng-dongeng neneknya sering menghipnotis alam bawah sadarnya untuk selalu berusaha lebih baik dan pada akhirnya cerita 1001 malam itu membawa dia tertidur pulas.

Bagi Nindi itu merupakan pengalaman yang tidak akan pernah dilupakan sampai saat ini. Apalagi ayah ibunya juga mempunyai cara didik yang hampir sama dengan kakek neneknya membuat gadis itu merasa nyaman .

Ketika Hati Bicara



Sabtu, 05 November 2016

Tunggu Novel ke 2


               BIARKAN HATI BICARA
Novel Pertama sy yg mengangkat cerita cinta sepasang kekasih...yang mampu untuk berasa, berfikir, bersyukur dengan apa yang terjadi.

Sekarang penulis baru mempersiapkan untuk novel ke duanya.
Untuk kali ini bersifat religi karena penulis ingin selain mengangkat sebuah cerita ingin memasukkan nilai yang terkandung di dalamnya ( agama Islam) .
Penulis ingin ada sesuatu perubahan  setelah membaca novel ke 2 yang sekarang sudah menulis sampai 70 hal
Semoga bermanfaat.... Aamiin...

Rabu, 26 Oktober 2016

Ketika Hati Bicara



Kisah cinta sepasang manusia yang sangat menarik untuk diikuti.
Perasaan yang ada dari SMA tersimpan apik di hati hingga keduanya dipertemukan kembali dengan masing-masing sudah mempunyai pasangan...
lalu bagaimana ceritanya baca saja ya...
"Biarkan Hati Bicara" penulis Trisni Setya N.S